n bahan bakar minyak (BBM) dengan research octane number (RON) rendah membawa dampak buruk bagi lingkungan. Namun belum banyak yang tahu bahwa praktik tersebut tak hanya berdampak pada lingkungan semata, namun juga persoalan kesehatan masyarakat hingga kepentingan perekonomian nasional. Kompleksitas dampak tersebut diharapkan dapat menjadi alasan kuat agar pengurangan konsumsi BBM RON rendah dapat diterapkan sesegera mungkin. “Selain lingkungan, ada juga dampak kesehatan yang harus ditanggung oleh masyarakat, dan pengaruhnya juga meluas ke perekonomian juga. Ini jelas ketidakadilan sosiologis. Masyarakat harus menerima beban dan dampak atas penggunaan BBM RON rendah,” ujar Direktur Keadilan Perkotaan Institut HIjau Indonesia (IHI), Selamet Daroyni, di Jakarta, Minggu (25/10).Menurut Selamet, BBM dengan RON rendah menyebabkan kualitas udara menjadi jauh menurun. Jika kondisi tersebut terus berlanjut, maka dampaknya juga akan terus terakumulasi dan kian membesar. Di Jakarta, misalnya, kondisi kualitas udara pada lima hingga 10 tahun depan dianggap banyak pihak mulai mengkhawatirkan. Terlebih dengan jumlah kendaraan bermotor yang kian bertambah, bahkan hamper sama dengan jumlah penduduknya. “(BBM RON rendah) Juga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. Saat ini sudah terjadi krisis iklim. Kalau kita semua tidak aware dengan kondisi seperti ini, tentu ke depan bakal semakin massif. Karena itu peningkatan kualitas BBM ini sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak dan krusial,” tutur Selamet.Di lain pihak, secara sosiologis, Selamet menjelaskan bahwa konsumsi BBM RON rendah mengakibatkan ketidakadilan sosiologis yang dampaknya baru akan bisa dirasakan dalam jangka panjang, dengan pihak yang paling terdampak adalah masyarakat. Karenanya perlu ada komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat untuk dapat mulai beralih pada BBM dengan RON tinggi yang lebih ramah lingkungan. “Jika mengabaikan lingkungan, yang antara lain tetap memakai BBM RON rendah, sama saja dengan bencana. Masyarakat yang harus menerima beban sosiologis itu. Maka solusinya perlu ada komitmen dari semua pihak untuk memastikan lingkungan yang lebih sehat, termasuk udara yang lebih bersih, lewat penggunaan BBM dengan oktan tinggi,” tegas Selamet.Penulis/Editor: Taufan SukmaFoto: Arif Firmansyah