m - Sejumlah berita menarik yang berpotensi mempengaruhi pergerakan pasar mengawali pekan ini, mulai dari pernyataan Sri Mulyani yang menilai kenaikan hutang selama masa pandemi sebagai bagian tren global, juga data BPS yang mengungkapkan turunnya impor barang modal dan bahan baku selama bulan September yang berdampak pada aktivitas manufaktur, selain itu Bank Indonesia menyampaikan realisasi skema berbagi beban BI-Pemerintah telah mencapai Rp291,3 triliun per 13 Oktober 2020.Sementara nilai rupiah mengawali minggu ini dengan melemah, namun IHSG justru berhasil masuk zona hijau.1. Menkeu : Naiknya hutang pemerintah jadi trend dimasa pandemiMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai kenaikan utang tidak hanya dialami Indonesia tapi juga merupakan tren yang sedang terjadi secara global di tengah pandemi Covid-19 yang disampaikan dalam konferensi pers APBN virtual Senin (19/10).Sri Mulyani mencontohkan dua negara maju yang selama ini menerapkan defisit sangat hati-hati yakni Kanada yang memperlebar defisit masing-masing dari minus 0.3% di 2019 menjadi minus 19.9% di 2020 dengan rasio hutang 114.6% dan Jerman dari surplus 1.5% di 2019 menjadi minus 8.2% di 2020 dengan rasio hutang terhadap PDB 73,3%.Indonesia sendiri untuk defisit diperlebar dari minus 2.3% menjadi minus 6.3% dengan rasio hutang 41.8% dari PDBSebelumnya laporan Bank Dunia mencantumkan  Indonesia masuk dalam 10 besar negara berpendapatan menengah kecil dengan utang luar negeri terbesar.2. Impor Barang modal dan bahan baku turun di bulan SeptemberBadan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor barang modal dan impor bahan baku di bulan September 2020 mengalami penurunan dibanding September 2019, dengan perincian impor barang modal tercatat US$ 2,13 miliar atau turun 17,72% yoy, sementara impor bahan baku US$ 8,32 miliar atau turun 18,96% yoy.Dampak dari penurunan itu terlihat pada turunnya  kinerja industri manufaktur Indonesia pada September 2020, yang juga sejalan degan hasil survei IHS Markit Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang turun 4 poin ke level 47,2 atau berada di bawah level ekspansif.Imbas dari penurunan di bulan September 2020  mengakibatkan berbagai perusahaan manufaktur mengurangi aktivitas pembelian dan inventaris untuk mengendalikan pengeluaran.3. Realisasi skema berbagi beban SBN capai Rp 290 TBank Indonesia (BI) mengungkapkan realisasi pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dengan skema berbagi beban atau burden sharing bersama dengan pemerintah telah mencapai Rp291,3 triliun per 13 Oktober 2020.Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo pembelian SBN di pasar perdana melalui mekanisme pasar sebanyak  Rp61,6 triliun. Mekanisme pembelian tersebut berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Gubernur BI pada 16 April 2020. Sementara, realisasi pembelian SBN dengan skema kedua burden sharing untuk pendanaan public goods telah mencapai Rp229,68 triliun.Dengan sinergi itu, pemerintah dapat lebih memfokuskan pada upaya akselerasi realisasi APBN untuk mendorong pemulihan perekonomian nasional.4. Rupiah mengawali minggu ini melemahNilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam tren melemah di perdagangan pasar spot hari ini, setelah menguat tipis 0,03% sepanjang pekan lalu.Berdasarkan data investing.com Senin (19/10) pukul 12.55 WIB, Rupiah di level 14.717,5 terhadap dolar AS di pasar spot. Rupiah melemah 0,32% dibandingkan dengan penutupan perdagangan terakhir pekan lalu. Sebelumnya di pembukaan perdagangan, rupiah menguat 0,14% di level 14.650.5. IHSG kembali di zona hijauIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Senin (19/10) menguat 7,22 poin atau 0,14% ke 5.110,63 pada akhir perdagangan sesi I hari ini, berdasarkan data Investing.com sepanjang perdagangan pagi ini, IHSG bergerak dalam kisaran 5.093,66-5.125,88.Enam sektor saham berada di zona hijau, sedangkan empat sektor saham lainnya masuk zona merah.Sektor-sektor saham dengan kenaikan terbesar adalah sektor konstruksi yang naik 1,29%, sektor pertambangan naik 1,07% dan sektor perdagangan naik 0,26%.Sedangkan sektor-sektor saham yang melemah adalah sektor perkebunan turun 0,36%, sektor consumer goods turun 0,32% dan sektor aneka industri turun 0,18%.Volume transaksi hingga akhir sesi I mencapai 8,04 miliar saham, dengan nilai Rp5,17 triliun. Adapun investor asing mencatatkan aksi jual bersih atau net sell yang mencapai Rp236,64 miliar.