a sejatinya adalah produk dalam negeri yang dirintis oleh Tirto Utomo pada tahun 1973. Pada tahun tersebut, sebuah pabrik pun didirikan di Pondok Ungu, Bekasi. Setahun setelahnya, perusahaan memperkenalkan merek Aqua dengan kemasan 950 ml dalam botol kaca dari pabrik tersebut.Sempat dicibir lantaran saat itu orang Indonesia kebanyakan minum air rebusan, tetapi produk Aqua secara perlahan diterima di masyarakat. Hal ini lantaran pada tahun 1970-an itu, banyak pekerja dari luar negeri yang mengerjakan proyek Tol Jagorawi.Baca Juga: Ramai Seruan Boikot Produk Prancis,  Danone  (PA:DANO): Aqua dan SGM Produk IndonesiaOrang-orang 'bule' itu banyak yang tak suka dengan air rebusan dan tak jarang mengeluh diare. Karena itulah kebiasaan meminum air kemasan di tengah pengerjaan proyek menular kepada pekerja lokal.Hingga akhirnya Aqua mulai digunakan di restoran mewah dan perusahaan-perusahaan Indonesia. Lalu, pada tahun 1982, Aqua mengganti bahan baku air yang semula menggunakan sumur bor beralih ke mata air pegunungan karena dianggap mengandung komposisi alami yang kaya nutrisi.Berkat produknya yang semakin diterima di masyarakat, tahun 1984 Aqua kembali membangun pabrik di Pandaan, Malang. Tahun 1985, Aqua juga mulai memperkenalkan kemasan yang lebih kecil, yaitu 220 ml yang berbentuk gelas plastik.Hingga perusahaan multinasional asal Prancis, Danone pun hadir melalui Danone Asia Holding Pte. Mereka mengakuisisi mayoritas saham PT Aqua Golden Mississippi pada tahun 1998.Tirto Utomo sendiri masih memegang saham di Aqua lewat PT Tirta Investama. Namun, bersamaan dengan akuisisi tersebut, kemasan Aqua mulai menyematkan label Danone.Belum lama ini Corporate Communications Director Danone Indonesia Arif Mujahidin juga mengatakan bahwa Aqua murni hasil pengembangan dalam negeri. Ia mengatakan bahwa produk-produknya, termasuk Aqua dan SGM yang dikembangkan dan diproduksi di Indonesia dilakukan oleh tenaga kerja Indonesia untuk konsumen Indonesia.Penulis/Editor: Fajria Anindya UtamiFoto: Instagram/sehataqua