ncana merger bank syariah milik bank BUMN yaitu PT Bank BRI Syariah (JK:BRIS) Tbk., PT Bank BNI (JK:BBNI) Syariah, dan PT Bank Syariah Mandiri kabarnya akan segera diketahui malam ini.Seperti diketahui mengutip laporan Bisnis.com Senin (12/10), pemerintah melalui Kementerian BUMN berencana menggabungkan atau melakukan merger bank-bank syariah yang dimiliki oleh bank pelat merah anggota Himpunan Bank Negara (Himbara).Kementerian BUMN menargetkan merger bank syariah anak bank Himbara tersebut dapat terealisasi pada Februari 2021.Saat ini terdapat tiga bank syariah yang menjadi anak usaha bank BUMN, yaitu PT Bank BRI (JK:BBRI) Syariah Tbk., PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank Syariah Mandiri. Sementara itu, satu berupa unit usaha (UUS) yaitu UUS PT Bank Tabungan Negara (JK:BBTN) (Persero) Tbk.Mengenai rencana tersebut, sumber Bisnis menyatakan Kementerian BUMN bakal mengumumkan secara resmi pada malam ini.Menurutnya, penandatanganan akan dilakukan oleh para direksi Bank BUMN dan saat ini soal komposisi kepemilikan masih dalam pembahasan.Tim laporan telah mencoba mengkonfirmasi kabar tersebut kepada Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga. Namun, hingga berita ini ditayangkan, Arya belum merespons pertanyaan yang diajukan.Sementara itu sebagaimana diwartakan Katadata bulan September lalu, Kementerian BUMN berencana menggabungkan empat bank syariah milik perusahaan pelat merah guna meningkatkan kapasitas perbankan syariah di Tanah Air. OJK berharap merger tersebut akan menciptakan bank syariah dengan modal inti minimal Rp 30 triliun atau masuk kelompok BUKU IV.Saat ini, belum ada satupun bank syariah yang masuk dalam kelompok buku IV.  Baru terdapat enam dari total seluruh perbankan yang ada di Indonesia yang masuk dalam kelompok tersebut, yakni Bank Mandiri (JK:BMRI), BRI, BCA (JK:BBCA), BNI, Bank CIMB Niaga (JK:BNGA) dan Bank Danamon (JK:BDMN).Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyayangkan hal tersebut lantaran saat ini jumlah perusahaan yang bergerak di sektor keuangan syariah maupun variasinya sangat banyak.OJK mencatat terdapat 14 bank umum syariah, 20 unit usaha syariah, 162 bank pembiayaan rakyat syariah di sektor perbankan. Selain itu, ada 64 asuransi syariah, 43 pembiayaan syariah, 7 penjaminan syariah, 11 fintech syariah, 76 lembaga keuangan mikro syariah, dan 13 industri non bank syariah lainnya.