nc melonjak hingga 38% membawa valuasinya mencapai USD22 miliar (Rp326 triliun). Palantir merupakan perusahaan analitik data AS yang dikenal karena pekerjaannya dengan Central Intelligence Agency (CIA) dan badan pemerintah lainnya.Sahamnya diperdagangkan pada USD10 (Rp148 ribu) masing-masing, dibandingkan dengan harga referensi USD7,25 per saham yang ditetapkan oleh Bursa Efek New York pada hari Selasa.Baca Juga: Ketika Jack Ma Diremehkan Bikin Mesin Pembayaran Digital, Sekarang Valuasinya Capai Rp2.987 T!Dilansir dari New York Post di Jakarta, Kamis (1/10/2020) pencatatan tersebut adalah momen penting bagi Palantir dan mengakhiri spekulasi bertahun-tahun tentang kapan perusahaan yang didirikan bersama oleh miliarder Peter Thiel pada tahun 2003 akhirnya bisa go public.Palantir yang berbasis di Denver, Colorado ini go public pada saat permintaan investor yang kuat akan saham baru, terutama perusahaan teknologi yang menjanjikan pertumbuhan cepat.Perusahaan saat ini dipimpin oleh CEO Alex Karp. Di bawah kepemimpinannya, ia telah melihat permintaan yang kuat untuk layanan Palantir. Bahkan, pendapatan mereka meningkat hampir 50% menjadi USD481,2 juta (Rp7,1 triliun) dalam enam bulan pertama tahun 2020 dari periode yang sebanding tahun sebelumnya.Tapi sayangnya, mereka belum menghasilkan laba dalam 17 tahun keberadaannya. Bahkan mereka membukukan kerugian bersih USD164,7 juta (Rp2,4 triliun) pada periode yang sama, turun dari kerugian USD280,5 juta setahun sebelumnya.Palantir memilih untuk go public melalui daftar langsung daripada penawaran umum perdana tradisional (IPO), yang berarti Palantir tidak mengumpulkan uang tetapi memungkinkan investornya untuk menjual lebih banyak saham.Palantir menganalisis sejumlah besar data untuk badan intelijen dan pertahanan pemerintah AS, bank global, dan perusahaan energi. Salah satu pendirinya adalah Peter Thiel, co-founder PayPal bersama Elon Musk 22 tahun lalu.Penulis/Editor: Fajria Anindya UtamiFoto: REUTERS/Mike Segar