ah memasuki resesi sejak awal kuartal I/2020, hal itu diungkapkan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu.Kendati demikian menurut Bisnis.com Jumat (02/10), pemerintah cukup percaya diri bahwa resesi yang menimpa perekonomian Indonesia tidak akan separah negara lainnya.Secara teknikal, status resesi bisa disandang oleh suatu negara jika pertumbuhan ekonominya sudah mengalami kontraksi selama dua kuartal berturut-turut.Dalam kasus Indonesia, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/ 2020 tercatat minus 5,32 persen. Adapun, Kementerian Keuangan memperkirakan angkanya berada di kisaran minus 2,9 persen sampai minus 1 persen pada kuartal ketiga ini yang akan diumumkan pada 5 November mendatang.Seperti diketahui, ekonomi Indonesia sudah mengalami penurunan saat itu. Dari biasanya PDB Indonesia berada di kisaran 5 persen, turun menjadi 2,97 persen pada kuartal I/2020.Dalam kesempatan yang sama, Febrio mengungkapkan perlambatan aktivitas ekonomi menjadi tanda jelas terjadinya resesi. Tahun ini, dia memperkirakan ekonomi indonesia akan mengalami kontraksi dalam kisaran minus 1,7 persen sampai minus 0,6 persen.Proyeksi tersebut direvisi dari angka sebelumnya, yakni -1,1 persen - 0,2 persen.Lebih lanjut mengutip laporan Detik Finance Jumat (02/10), Febrio Kacaribu menyebut resesi menandakan perlambatan aktivitas ekonomi secara berkepanjangan. Febrio menyebut, Kementerian Keuangan juga sudah mengeluarkan proyeksi angka pertumbuhan ekonomi di kuartal III yaitu di kisaran minus 2,9% sampai minus 1%.Lebih lanjut Febrio mengatakan, sepanjang tahun 2020 pun ekonomi Indonesia berada di zona negatif.Meski demikian, Febrio menegaskan penurunan pertumbuhan ekonomi nasional tidak sedalam negara-negara lain yang terdampak pandemi Corona. Dia bilang sekitar 92% negara di dunia ini mengalami resesi. Resesi di negara lain terjadi karena penurunan ekonominya hingga double digit.Selain itu menurut CNN Indonesia Kamis (01/10), Kementerian Keuangan mengklaim resesi atau pertumbuhan ekonomi negatif dalam dua kuartal atau lebih secara berturut-turut tidak hanya menimpa Indonesia, tapi juga dialami 92 persen negara di dunia. Bahkan, pertumbuhan ekonomi negatif negara-negara lain jauh lebih dalam daripada di Tanah Air.Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Nathan Kacaribu mengatakan Indonesia memang tidak mampu menghindari dari resesi ekonomi pada kuartal III 2020. Proyeksinya, resesi terjadi karena pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran minus 1 persen sampai minus 2,9 persen.Proyeksi ini muncul karena tekanan ekonomi di tengah pandemi virus corona atau covid-19 sangat besar. Sampai saat ini pun, dampaknya masih sangat terasa di masyarakat.Hal ini tercermin dari tingkat Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mengalami penurunan alias deflasi sampai tiga bulan berturut-turut. Tercatat, pada Juli terjadi deflasi sebesar 0,1 persen, Agustus minus 0,05 persen, dan September 0,05 persen.Kendati daya beli belum pulih dan tak bisa menghindar dari resesi, namun Febrio meminta publik tidak takut dengan situasi ekonomi ke depan. Sebab, pemerintah berusaha terus menelurkan kebijakan yang mampu mengatasi dampak resesi di dalam negeri.Sebagai informasi, beberapa negara sudah jatuh ke jurang resesi, seperti Singapura, Korea Selatan, India, Amerika Serikat, hingga Inggris. Sejauh ini, negara dengan ekonomi positif adalah China dan Vietnam.