Keuangan (OJK) menyatakan akan memperpanjang keringanan restrukturisasi kredit hingga 1 tahun ke depan. Keputusan itu diambil melalui Rapat Dewan Komisioner OJK pada September lalu.Mengutip laporan CNN Indonesia Jumat (23/10), Ketua OJK Wimboh Santoso menyampaikan kebijakan ini sebagai langkah antisipasi untuk menyangga terjadinya penurunan kualitas debitur restrukturisasi.Namun, ia melanjutkan, kebijakan perpanjangan restrukturisasi diberikan secara selektif berdasarkan asesment bank.Hal ini dilakukan demi menghindari moral hazard agar debitur tetap mau dan mampu melakukan kegiatan ekonomi dengan beradaptasi di tengah masa pandemi covid-19.Lebih lanjut mengutip CNBC Indonesia Jumat (23/10), OJK segera memfinalisasi kebijakan perpanjangan restrukturisasi ini dalam bentuk POJK. Termasuk memperpanjang beberapa stimulus lanjutan yang terkait.Stimulus lanjutan itu, seperti pengecualian perhitungan aset berkualitas rendah (loan at risk) dalam penilaian tingkat kesehatan bank, governance persetujuan kredit restrukturisasi, penyesuaian pemenuhan capital conservation buffer. Lalu penilaian kualitas Agunan yang Diambil Alih (AYDA) serta penundaan implementasi Basel III.Sementara dilansir dari Detik Finance Jumat (23/10), per 28 September 2020, OJK mencatat realisasi untuk restrukturisasi kredit perbankan mencapai Rp 904,3 triliun dari 7,5 juta debitur. Sementara itu, OJK mencatat non-performing loan (NPL) masih di angka 3,15%, atau menurun dari bulan Agustus yang sebesar 3,22%.Menurut catatan OJK, perbankan telah membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) yang dalam 6 bulan terakhir menunjukkan kenaikan. Hal itu dilakukan untuk menjaga prinsip kehati-hatian.Sebelumnya pada 13 Maret OJK telah mengeluarkan POJK No.11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease yang berlaku sampai 31 Maret 2021.POJK ini diharapkan menjadi countercyclical dampak penyebaran virus Corona sehingga bisa mendorong optimalisasi kinerja perbankan khususnya fungsi intermediasi, menjaga stabilitas sistem keuangan, dan mendukung pertumbuhan ekonomi.Pemberian stimulus ditujukan kepada debitur pada sektor-sektor yang terdampak penyebaran virus Covid-19, termasuk dalam hal ini debitur UMKM dan diterapkan dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian yang disertai adanya mekanisme pemantauan untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan dalam penerapan ketentuan.Selain itu PT Bank Tabungan Negara (JK:BBTN) (Persero) Tbk atau BTN tercatat telah melakukan restrukturisasi kredit kepada 299,6 ribu debitur per 30 September 2020. Nilai kredit yang dilonggarkan tersebut mencapai Rp52,8 triliun.Perseroan juga telah menyalurkan kredit sebesar Rp19,01 triliun kepada 63 ribu dari dana penempatan pemerintah per 16 Oktober 2020. Hingga akhir September lalu, BTN telah mengantongi penempatan dana sebesar Rp10 triliun dari pemerintah.Bank pelat merah itu juga menjalankan program penjaminan kredit yang realisasinya mencapai Rp120 miliar kepada 43 debitur hingga 25 September.Sedangkan, realisasi penyaluran subsidi gaji lewat BTN senilai Rp1,2 triliun kepada 1 juta rekening pekerja bergaji di bawah Rp5 juta.