rikan rekomendasi bagi Indonesia agar ke depan fokus pada penguatan dan percepatan pemulihan dari dampak pandemi Covid-19.Dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Desember 2020 yang berjudul ‘Towards a Secure Fast Recovery’, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2020 diproyeksi minus 2,2%. Proyeksi ini terkoreksi menurun dari perkiraan sebelumnya sebesar minus 1,6%.Baca Juga: Kurangi Emisi Karbon, Indonesia Bakal Diguyur US$110 Juta dari Bank Dunia“Prioritas utama adalah untuk menghindari kemunduran akibat perkembangan buruk terkait pandemi. Kesehatan publik tetap menjadi prioritas teratas untuk mengizinkan ekonomi tetap terbuka dan bergerak menuju pembukaan kembali aktivitas ekonomi secara menyeluruh dan aman,” Kata Acting Lead Economist World Bank Indonesia Ralph Van Doorn pada Kamis (17/12/2020).Namun demikian, kata Ralph diperlukan perbaikan lebih lanjut dalam pengetesan dan pelacakan kontak, serta langkah-langkah kesehatan publik lainnya. Sementara itu persiapan untuk pengadaan dan pemberian vaksin yang aman dan efektif secara luas begitu selesai dikembangkan dan disetujui.Langkah lainnya yakni dukungan kepada rumah tangga dan perusahaan yang terdampak akan perlu dijaga sampai krisis telah terkendali dan kerangka kebijakan diperlukan agar pemulihan tetap berbasis bukti, transparan dan adaptif.“Pada saat yang sama, kebijakan yang diambil perlu mempertimbangkan antara kebutuhan dukungan jangka pendek dan pentingnya untuk mencapai tujuan jangka menengah dan menanggulangi risiko,” tambahnya.Hal ini penting agar pembiayaan moneter untuk defisit dibatasi waktunya, disesuaikan dengan baik dan transparan, dan strateginya dikomunikasikan dengan jelas.Dalam laporan tersebut, juga diungkapkan pada 2021 ekonomi Indonesia akan kembali membaik dan perlahan menguat pada 2022. Hal ini didasarkan pada pembukaan ekonomi secara perlahan pada 2021 diikuti pembukaan lebih lanjut dan dilonggarkannya aturan pembatasan sosial sepanjang 2022“Pertumbuhan akan kembali naik ke 4,4%  pada 2021 yang secara umum didorong oleh pemulihan konsumsi swasta,” pungkasnya.Penulis: Boyke P. SiregarEditor: Muhammad SyahriantoFoto: Reuters/Johannes Christo