menjadi ujung tombak untuk membangun kesadaran masyarakat mengubah perilaku sehari-hari yang mengarah pada kedisiplinan mematuhi protokol kesehatan.Langkah ini urgen dilakukan mengingat masih banyak anggota masyarakat yang tidak patuh terhadap protokol kesehatan karena merasa tidak akan tertular Covid-19. Seperti diungkap Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah mereka tidak kecil, yakni 17% dari responden atau sekitar 44,9 juta orang.Baca Juga: Perangi Covid-19, Yuk Belajar Disiplin Protokol Kesehatan dari Malaka, NTTSejauh ini mahasiswa sudah dilibatkan dalam relawan Covid-19, termasuk untuk menjalankan di bidang perubahan perilaku. Kegiatan mereka bahkan telah terhubung dengan aplikasi sehingga bisa termonitor.“Kita ingin masyarakat punya kebiasaan untuk hidup sehat, hidup bersih. Jadi, perubahan perilaku itu adalah upaya di hulu, mencegah orang supaya tidak tertular. Itu menjadi sangat penting,” ucap Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Covid-19 Sonny Harry B Harmadi dalam diskusi secara virtual di Graha BNPB di Jakarta.Dia menjelaskan, ada dua hal yang perlu dilakukan untuk memutus mata rantai penularan, yakni perubahan perilaku dengan 3M, yakni memakai masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan serta mencuci tangan pakai sabun, dan penanganan kesehatan dengan 3T yang meliputi testing, tracing, dan treatment.“Kalau 3M dan 3T ini dilakukan secara bersamaan, penularan bisa diputus dengan lebih cepat. Jadi, perubahan perilaku itu partisipasinya masyarakat. Kalau semua orang Indonesia patuh, dampaknya akan sangat besar,” ucapnya.Menurut Sonny, jika kepatuhan sudah menjadi perilaku, bangsa Indonesia akan sangat tangguh dalam sisi kesehatan. Menghadapi pandemi apa pun yang terjadi, bila kebiasaan hidup sehat ini dilakukan, bisa meningkatkan usia harapan hidup dalam jangka panjang.“Kita ingin masyarakat punya kebiasaan untuk hidup sehat, hidup bersih. Jadi, perubahan perilaku itu adalah upaya di hulu, mencegah orang supaya tidak tertular. Itu menjadi sangat penting,” papar Sonny.Dia pun menyampaikan rasa terima kasihnya terhadap mahasiswa dan Kemendikbud yang turut membantu mengampanyekan perubahan perilaku. Sonny juga berharap mahasiswa yang membantu tugas tersebut menjaga diri karena berhadapan dengan masyarakat juga punya risiko yang besar.“Jangan sampai Anda tertular dan juga harus menjadi teladan. Mahasiswa harus praktikkan betul pakai masker yang benar, menjaga jarak ketika berbicara, dan tunjukkan cara mencuci tangan yang baik,” pesannya.Dirjen Dikti Kemendikbud Nizam mengungkapkan, sejak 9 Maret 2020, tepat seminggu setelah kasus pertama Covid-19 di Indonesia, Mendikbud Nadiem Makarim melakukan mobilisasi relawan mahasiswa, khususnya mahasiswa di bidang kesehatan. Hanya dalam tiga hari, sebanyak 15.000 mahasiswa mendaftar menjadi relawan. Berdasarkan itu, Kemendikbud membentuk sebuah gugus Relawan Covid-19 (RECON) untuk mitigasi kasus Covid-19.“Kita lakukan pelatihan dengan WHO, Kementerian Kesehatan, dan berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 untuk menerjunkan relawan ini dalam membantu mitigasi, terutama dalam komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), melakukan tracing, pendampingan terhadap orang tanpa gejala (OTG) atau ODP dan PDP. Program tersebut dilakukan secara daring maupun luring,” terangnya.ÂSelain itu, Kemendikbud juga melakukan program KKN Tematik. Kegiatan itu melibatkan mahasiswa yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan salah satu misinya, yaitu mendidik masyarakat tentang melindungi diri dan keluarga dari bahaya Covid-19. Lebih dari 50.000 mahasiswa terjun mengikuti program tersebut.Selain itu, Nizam juga mengungkapkan ada keterlibatan alumni dan penerima Program Bidik Misi. Mereka secara sukarela membantu mendidik tetangga di sekitarnya untuk membantu mitigasi Covid-19. “Jadi, kita all out membantu upaya teman-teman Satgas untuk segera keluar dari Covid-19 ini,” tukasnya.Sejauh ini dampak program tersebut tidak hanya terhadap para mahasiswa, tetapi juga pada lingkungan sekitarnya. Di Indonesia tercatat sekitar 8 juta mahasiswa. Bila satu mahasiswa bisa mengedukasi dan mengubah perilaku minimal lima orang, maka ada sekitar 40 juta orang yang bisa merubah perilaku.Dia juga mengungkapkan, Indonesia memiliki hampir 3 juta guru. Satu guru diperkirakan mengajar 20-40 murid. Jika guru tersebut menjadi agen dan duta perubahan perilaku, maka ada sekitar 60 juta siswa yang akan mengubah perilakunya menjadi hidup bersih dan sehat. Kemudian, para siswa tersebut juga akan berdampak terhadap keluarga dan ikut mengubah perilaku seluruh masyarakat.“Ini harus menjadi gerakan nasional. Ada dutanya dan juga agen-agen yang turun sampai di tingkat keluarga. Ini bisa kita lakukan perubahan tersebut secara terstruktur dan masif sehingga seluruh masyarakat Indonesia menjadi berperilaku hidup bersih dan sehat. Kita wujudkan Indonesia yang sehat, kuat, dan maju,” terang Nizam.Dia lantas menjelaskan perbedaan signifikan antara duta perubahan perilaku dengan RECON, yaitu pada fokus tujuannya. Khusus relawan (RECON) di bidang kesehatan yakni membantu dalam testing, tracing hingga treatment kasus Covid-19 serta memberikan konseling.Sedangkan duta perubahan bertujuan untuk mengampanyekan perubahan perilaku secara masif di lingkungan masing-masing di tingkat RT, RW, kelurahan, kecamatan.Dalam kaitan dengan Kampus Merdeka, kata Nizam, mahasiswa yang menjadi relawan kesehatan juga bisa belajar tentang epidemiologi, komunikasi, tracking, testing, dan sebagainya.“Itu bisa dihargai dengan SKS. Kita siapkan modulnya, programnya. Termasuk duta perubahan, mereka bisa melakukan pengamatan perubahan sosial yang bisa menjadi tulisan karya ilmiah. Bisa mengamati juga perilaku ekonomi. Jadi, itu bisa menjadi pembentuk kompetensi diri sesuai dengan keilmuannya dan nanti bisa diakui dengan SKS,” terangnya.Sebelumnya peran relawan sebagai garda terdepan perilaku disiplin menjalankan protokol kesehatan untuk mencegah terpapar Covid-19 telah disampaikan Ketua Sub-Bidang Mitigasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana Brigjen TNI (Purn) Irwan Amrun. Dia menjelaskan, perubahan perilaku dilakukan dalam tiga subbidang, yakni sosialisasi, edukasi, dan mitigasi.Menurut dia, tugas yang diemban tersebut tidak mudah mengingat kepatuhan masyarakat menjalankan protokol kesehatan juga berbeda-beda. Karena itu, edukasi dan pendekatan terhadap masyarakat juga akan berbeda. Dengan demikian, relawan harus memahami kearifan lokal dan key opinion leader (KOL).“Ataupun influencer namanya. Ataupun dibilang itu sebagai signifikan leader person yang akan punya pengaruh kuat. Siapa dia? Nah, ini dianalisis karena banyak dibantu dari psikologi, antropologi, dan sosiologi,” ujar Irawan (5/9).Ketua Koordinator Relawan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Andre Rahadian memaparkan, dalam penanganan Covid-19, Satgas ini tidak bekerja sendiri, namun juga ada beberapa bantuan relawan independen maupun organisasi seperti Pramuka, KNPI, PBNU, dan Muhammadiyah. Mereka telah bekerja sama yang juga sudah turun di masyarakat sejak terjadi pandemi Covid-19.Di antara tugas yang dilakukan relawan adalah melakukan sosialisasi penggunaan masker, cuci tangan, menjaga jarak, dan ajakan kedisiplinan melaksanakan protokol kesehatan lainnya.Penulis: RedaksiEditor: Fajria Anindya UtamiFoto: Ampelsa