m - Keyakinan konsumen dalam negeri terhadap kondisi ekonomi masih rendah di bulan September, sementara realisasi anggaran penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional sudah terserap Rp376,17 triliun atau 54,1% dari pagu anggaran senilai Rp695,2 triliun, sedangkan dibidang pembayaran terjadi  pergeseran penggunaan sistem pembayaran dari perbankan ke fintech, pandemi Covid-19 berdampak negatif pada kinerja dua emiten maskapai yakni PT Air Asia Indonesia Tbk dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang merugi hingga triliunan rupiah di kuartal III, dan pengelola waralaba Pizza Hut di Indonesia, hingga kuartal III-2020 mencatatkan rugi sebesar Rp 8,67 miliar dengan pendapatan Rp 2,67 triliun.1. Keyakinan konsumen terhadap ekonomi masih rendahSurvei Bank Indonesia (BI) mengindikasikan pemulihan keyakinan konsumen dalam negeri terhadap kondisi ekonomi masih tertahan pada Oktober 2020 yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Oktober 2020 sebesar 79 atau lebih rendah dari September, 83,4.Penurunan terjadi pada indeks pembentuknya yaitu Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) turun 6 poin menjadi 106,6 dan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) turun 2,6% menjadi 51,5.Menurut survei BI, pandangan konsumen itu dipicu oleh belum pulihnya aktivitas ekonomi dan penghasilan masyarakat akibat pandemi covid-19.2. Serapan PEN masih dibawah 60%Data Kementerian Keuangan per 4 November 2020 menunjukkan realisasi anggaran penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional senilai Rp376,17 triliun atau 54,1% dari pagu anggaran senilai Rp695,2 triliun yang disebabkan ada beberapa program yang penyerapannya sudah 100%.Namun beberapa program yang akan tersalur pada bulan ini misalnya subsidi gaji tahun ini dinilai akan kembali meningkatkan kinerja penyerapan anggaran PEN.Sementara anggaran kesehatan dari pagu senilai Rp97,26 triliun yang terserap hanya Rp32,15 triliun atau 33,1% meskipun sudah menghitung alokasi untuk vaksin senilai Rp29,23 triliun.Program lain yang penyerapannya di bawah 50% adalah sektoral dan pemda yang baru terserap Rp32,21 triliun atau 48,8% dari pagu senilai Rp65,97 triliun, insentif usaha masih sebesar 31,6% dari pagu senilai Rp38,13 triliun dan pembiayaan korporasi yang terserap sebesar 3,2% atau Rp2 triliun dari pagu senilai Rp62,22 triliun.3. Masyarakat lebih banyak gunakan platform fintech untuk pembayaranBerdasarkan data Bank Indonesia mengenai data pangsa pasar sistem pembayaran 2019 terjadi  pergeseran penggunaan sistem pembayaran dari perbankan ke fintech dan OVO memimpin pangsa pasar uang elektronik pada tahun lalu sebesar 20% diikuti Bank Mandiri (JK:BMRI) dan GoPay masing-masing 19%.Sementara posisi keempat dan kelima ada DANA dan BCA (JK:BBCA) dengan pangsa pasar masing-masing 10%. Sedangkan BRI (JK:BBRI) sebesar 6,3% dan LinkAja 5,8%. Pemain lain yakni Shopee punya 3,7%, BNI (JK:BBNI) 1,3% dan Doku sebanyak 1,2%.Meskipun berdasarkan data, perusahaan fintech lebih menguasai pangsa pasar uang elektronik, namun pangsa pasar sistem pembiayaan secara total tetap dikuasai perbankan yang lebih fokus pada kanal elektronik seperti ATM dan EDC.4. Covid-19 buat emiten maskapai merugiPandemi Covid-19 berdampak negatif pada kinerja dua emiten maskapai yakni PT Air Asia Indonesia Tbk dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, yang  mencatatkan penurunan pendapatan hingga triliunan rupiah di kuartal III-2020.Berdasarkan laporan keuangan, pendapatan Garuda anjlok hingga 67,84% dan AirAsia 71,0%. Laba bersih kedua perusahaan pada kuartal III-2019 berbalik menjadi rugi bersih sepanjang sembilan bulan tahun ini.PT AirAsia Indonesia Tbk merugi hingga Rp 1,71 triliun pada kuartal III-2020 yang berbanding terbalik dari pencatatan laba senilai Rp 422,05 juta pada periode sama tahun lalu.Sementara pendapatan usaha Garuda hanya US$ 1,13 miliar, turun hingga 67,85% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu senilai US$ 3,54 miliar.Pendapatan Garuda mayoritas berasal dari  penerbangan berjadwal, senilai US$ 917,28 juta pada kuartal III-2020, yang anjlok hingga 67,19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 2,79 miliar.5. Pizza Hut makin merana di kuartal III-2020PT Sarimelati Kencana  Tbk (JK:PZZA), pengelola waralaba Pizza Hut di Indonesia, hingga kuartal III-2020 mencatatkan rugi sebesar Rp 8,67 miliar dengan pendapatan Rp 2,67 triliun. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, PZZA masih mencatat laba sebesar Rp 149,24 miliar dengan pendapatan Rp 2,94 triliun.Untuk pendapatan tahun ini, penjualan berasal dari makanan yang berkontribusi Rp 2,54 triliun dan minuman sebesar Rp 136,28 miliar. Adapun potongan penjualan kuartal III 2020 tercatat Rp 8,19 miliar.Selama pandemi COVID-19 PZZA sangat terdampak dan menyiasatinya dengan melakukan sejumlah strategi mulai dari efisiensi hingga menjual menu Pizza Hut di pinggir jalan.