ah mengalami resesi dari awal tahun 2020 karena perlambatan ekonomi yang terjadi di kuartal I-2020, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menyebutkan.Pada kuartal I perekonomian melambat dari tren 10 tahun terakhir yakni di kisaran 5% menjadi hanya 2,97% seperti yang dilansir CNBC Indonesia Rabu (07/10). Lalu pada kuartal II anjlok lebih dalam menjadi minus 5,32% yang membuktikan tertekan sangat dalam akibat Covid-19 ini.Menurutnya, sejak perlambatan di kuartal I dan ke-II, arah perekonomian sudah jelas akan masih ke zona resesi karena pertumbuhan negatif berturut-turut. Apalagi semua sektor penggerak perekonomian tertekan dalam.Namun, ia meyakini pada kuartal III ini kontraksinya tidak akan sedalam kuartal II. Diharapkan akan berlanjut juga ke kuartal IV sehingga hingga akhir tahun bisa kembali ke pertumbuhan netral.Lebih lanjut mengutip Kontan akhir September, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal I lalu, perekonomian RI hanya tumbuh 2,97 persen. Jauh lebih rendah dibanding pada kuartal IV-2019 yang sebesar 4,97 persen.Pada kuartal II-2020, pertumbuhan ekonomi pun terperosok lebih dalam, yakni masuk ke zona negatif 5,32 persen.Namun Febrio berharap, pada kuartal IV tahun ini kinerja perekonomian kian membaik. Di sisi lain, pemerintah juga berambisi agar kinerja perekonomian bisa kembali pulih memasuki tahun 2021.Pemerintah pun di dalam RAPBN 2021 menargetkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,5 persen hingga 5,5 persen.Febrio mengatakan, rancangan defisit APBN tahun ini yang mencapai 6,3 persen merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menjaga kinerja perekonomian.Menurut dia, Indonesia belum pernah mendorong defisit anggaran hingga 6,3 persen bahkan dalam krisis-krisis yang lalu.Defisit tersebut terjadi lantaran pemerintah menggelontorkan belanja sebagai stimulus atau bantalan untuk perekonomian yang mencapai Rp 695,2 triliun.