oduk pertambangan yang dikenakan bea keluar (BK) untuk periode November 2020 dipastikan turun.Menurut Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Didi Sumedi mengatakan penurunan HPE produk pertambangan itu terjadi karena fluktuasi harga internasional pada komoditas pertambangan tersebut.“Jika dibandingkan dengan HPE bulan lalu, sebagaian besar produk pertambangan mengalami penurunan harga,”Kata Didi di Jakarta beberapa hari lalu.Produk pertambangan yang dikenai bea keluar adalah konsentrat tembaga, konsentrat besi, konsentrat besi laterit,konsentrat pasir besi, pellet konsentrat pasir besi, konsentrat mangan, konsentrat timbal,konsentrat seng,konsentrat ilmenit,konsentrat rutil, dan bauksit yang telah dilakukan pencucian.Menurut Didi, perhitungan harga dasar HPE untuk komoditas konsentrat besi, konsentrat besi laterit, konsentrat pasir besi, konsentrat mangan, konsentrat ilmenit, dan konsentrat rutil bersumber dari Asian Metal dan Iron Ore Fine Australian.Sedangkan konsentrat tembaga, pellet konsentrat pasir besi, konsentrat timbal, konsentrat seng, dan bauksit bersumber dari London Metal Exchange (LME).Namun Didi menjelaskan penetapan HPE periode November 2020 ini ditetapkan setelah memperhatikan berbagai masukan tertulis dan koordinasi dari berbagai instansi terkait.Berdasarkan data Kementrian Perdagangan, produk pertambangan yang mengalami kenaikan harga rata-rata pada periode November 2020 adalah konsentrat mangan dengan harga rata-rata sebesar US$ 213,63/WE atau naik sebesar 1,04%.Berikutnya konsentrat ilmenit dengan harga rata-rata US$289,35/WE atau naik 1,96%; dan bauksit yang telah dilakukan pencucian (washed bauxite) dengan harga rata-rata US$23,88/WE atau naik 1,12%Sedangkan produk yang mengalami penurunan dibandingkan HPE periode sebelumnya adalah konsentrat tembaga turun sebesar 1,77%, konsentrat besi turun 6,40% dan konsentrat besi laterit turun 6,40%  Sementara itu, pellet konsentrat pasir besi dengan harga ratarata US$ 117,98/WE tidak mengalami perubahan.Penulis: Boyke P. SiregarEditor: Annisa NurfitriyaniFoto: Warta Ekonomi