OTF) produksi nikel dunia sekitar 2,668 juta ton Ni dan Indonesia menyumbang produksi sekitar 800 ribu, menurut Badan Geologi Kementerian ESDM pada 2019. Hal tersebut menjadikan Indonesia negara produsen bijih terbesar di dunia sepanjang tahun lalu.Kepala Badan Geologi Eko Budi Lelono menyampaikan seperti yang diwartakan Kontan Rabu (14/1), produksi bijih nikel Indonesia sebanyak 800.000 ton Ni pada tahun lalu menjadi yang terbesar di dunia. Disusul oleh Filipina dengan 420.000 ton Ni dan Rusia sebanyak 270.000 ton Ni. New Caledonia sebesar 220.000 ton Ni dan negara lainnya dengan total 958.000 ton Ni.Berdasarkan data dari Badan Geologi, sumber daya dan cadangan nikel yang dimiliki Indonesia masih cukup tinggi. Eko memaparkan, hingga Juli 2020, total neraca sumber daya bijih nikel Indonesia mencapai 11,88 miliar ton. Sedangkan total sumber daya logam nikel sebesar 174 juta ton.Adapun, neraca cadangan bijih nikel hingga Juli 2020 tercatat sebesar 4,34 miliar ton. Sementara total cadangan logam nikel sebesar 68 juta ton. Data tersebut dikumpulkan dari 328 lokasi di Indonesia.Menurut Eko, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara menjadi tiga provinsi dengan sumber daya dan cadangan nikel terbesar.Lebih lanjut tambah laporan, Eko menyampaikan bahwa pada tahun lalu, produksi nikel matte Indonesia sebesar 72.000 ton. Produksi FeroNikel 1,1 juta ton dan Nikel Pig Iron (NPI) sebanyak 781.000 ton.Badan Geologi menegaskan eksplorasi serta penyiapan dan penawaran Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUPK) diperlukan untuk menjaga pasokan cadangan bijih nikel dalam beberapa tahun ke depan. Selain itu, untuk mencegah inefisiensi pemanfaatan bijih nikel, diperlukan sinergi antara Kementerian ESDM melalui Ditjen Minerba dan Badan Geologi, bersama Kementerian Perindustrian.Adapun mengutip Katadata Senin (14/10), Riset bank investasi dan keuangan asal Amerika Serikat, Morgan Stanley, memprediksi penggerak produk komoditas Indonesia akan bergeser dari batu bara ke nikel. Ekspornya diperkirakan akan naik seiring dengan peningkatan investasi yang signifikan dari perusahaan Tiongkok.Potensi itu semakin besar karena Indonesia memiliki cadangan bijih nikel terbesar di dunia. Kualitasnya pun sesuai untuk bahan baku baterai mobil listrik (EV).Analis komoditas global Morgan Stanley Susan Bates memperkirakan permintaan jangka menengah untuk nikel justru akan bullish.Prediksinya, permintaan stainless akan naik sebesar 2% per tahun hingga 2025 seiring intensitas penggunaannya di pasar negara berkembang. Permintaan nikel untuk kendaraan listrik juga berperan penting dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Pertumbuhannya dapat mencapai 12% pada 2025 dan 23% pada 2030.Produksi nikel negara ini, menurut catatan Wood Mackenzie, naik 36% pada 2014 hingga 2019 menjadi 817 ribu ton. Angka ini setara 32% pangsa pasar global atau yang terbesar di dunia. Kenaikan itu terjadi berkat percepatan investasi di pabrik pengolahan dan peleburan (smelter) nikel. Produksinya tahun lalu mencapai 448 ribu ton atau 19% dari pasokan global..