egara (CBDC) kian meningkat di sejumlah negara, seperti Hong Kong, Thailand, Uni Eropa. Kini, Australia dan Kamboja pun berniat merilis mata uang digital nasional.Melansir laman Forkas, Rabu (4/11/2020), Otoritas Moneter Hong Kong dan Bank Sentral Thailand kini terlibat dalam studi percontohan CBDC.“Mitra teknologi kedua negara itu ialah perusahaan pengembang blockchain, ConsenSys,” begitu bunyi laporan tersebut.Baca Juga: Uji Coba Yuan Digital Sudah Masif, Xi Jinping: China Harus Ikut Susun Aturan Global!Pada awal pekan ini, Bank Sentral Australia juga mengumumkan rencana peluncuran proyek mata uang digital--dengan mitra teknologi yang sama dengan Hong Kong dan Thailand.Direktur ConSenSys Hong Kong, Charles d’Haussy berujar, “CBDC berbasis blockchain ritel mewakili teknologi baru untuk penerbitan uang bank sentral, di mana uang bank sentral berbentuk token dapat masyarakat akses dan dalam hal ini, bisnis yang menjadi uji coba dari solusi tersebut.”Tekanan terhadap bank sentral di seluruh dunia untuk mendigitalkan mata uang nasional telah meningkat ketika China mulai menguji coba prototipe yuan digital secara masif.Setelah mencoba yuan digital di kalangan bank-bank besar, belum lama ini China membagikan 50 ribu yuan digital kepada masyarakat guna menggelar uji coba di ribuan restoran dan toko.Selain China, Bank Sentral Bahama juga spenuhnya meluncurkan CBDC (sand dolar). Bank Sentral Korea juga mengumumkan rencana distribusi CBDC sebagai bagian uji coba selama 22 bulan.Ada pula Bank Sentral Jepang yang mempertimbangkan untuk bergabung dalam ‘kompetisi’ peluncuran CBDC--namun lembaga keuangan itu mengaku butuh strategi yang menyeluruh. Di AS, Federal Reserve juga memberi lampu hijau kepada pemerintah untuk berkolaborasi dengan swasta, guna menciptakan dolar digital.Penulis/Editor: Tanayastri Dini IsnaFoto: Unsplash/Dmitry Moraine