lu mengaku sangat kaget luar biasa saat mendengar pernyataan Menteri BUMN Erick Thohir.“Mendengar talkshow Erick Thohir dan Karni Ilyas di salah satu chanel youtube terbaru membuat saya kaget luar biasa dan mengelus dada berkali kali,” katanya yang juga Sekjen PENA 98, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (1/11/2020). Baca Juga: Adian Napitupulu Mulai Protes ke Pemerintah, Gak Konsisten...“Dalam pernyataannya di menit ke 11 detik ke 20, Erick Thohir menyampaikan keinginanan agar nanti Kementrian BUMN tidak lagi menerima dana dari APBN, tapi cukup 1% dari pembagian deviden,” tambahnya.Menurut dia, pernyataan tersebut sangat berbahaya karena bisa mengubah negara menjadi perusahaan yang dibiayai oleh laba usaha semata-mata. Baca Juga: Presiden Jokowi Disarankan Telepon Emmanuel Macron“Ini bukan pernyataan main-main, ini pernyataan yang keluar dari mulut seorang menteri yang tentunya tidak bisa dianggap remeh karena terkait dengan konstitusi dan Ideologi negara,” jelasnya.Ia pun menyarankan agar sebaiknya Erick Thohir mempelajari bahwa mengelola negara itu bukan hanya sekedar berapa angka uang.Sambungnya, dalam mengelola negara, ada mekanisme konstitusi dan kontrol melalui parlemen sehingga penentuan anggaran kementerian juga harus persetujuan DPR dan pemerintah, bukan main asal ambil 1% laba BUMN.Menurutnya lagi, negara bisa mendapatkan uang dari berbagai sumber, bisa deviden BUMN, pajak dan sebagainya.“Semua uang itu tidak serta-merta bisa dicomot begitu saja karena penggunaanya akan diatur melalui APBN yang dibuat bersama oleh DPR dan pemerintah lalu menjadi UU dan berikutnya DPR diberi kewenangan juga untuk mengawasi penggunaan anggaran itu,” katanya.“Mekanisme ini tidak bisa dilanggar walaupun Deviden BUMN berjuta juta kali lipat dari APBN,” tambah dia.Kemudian, Adian menilai pernyataan Erick Thohir menunjukan bahwa Menteri BUMN benar-benar tidak memahami apa itu APBN yang diatur dalam konstitusi, tidak mengerti tentang tata kelola negara dan BUMN sebagai Badan Usaha Milik Negara bukan Negara Milik Badan Usaha.“Saya tidak tahu apa maksud dari Pernyataan Erick Thohir, apakah pernyataan yang lahir dari ketidak mengertian atau dari kesombongan sebagai menteri yang mengelola asset terbesar,” cetus Adian.“Tapi apapun itu saya berharap Erick Thohir tidak berniat meniadakan atau mengerdilkan peran DPR dan Presiden dalam menyusun anggaran kementriannya,” bebernya.Bahkan, Adian juga mengkritisi pernyataan Erickh Thohir pada menit ke 34 detik ke 30. Erick Thohir mengatakan presiden menitip komisaris di BUMN.“Itu membuat saya cukup terganggu ketika Erick Thohir mengatakan bahwa Presiden juga titip Komisaris. Saya berharap maksud Erick Thohir bukanlah Presiden menitip tapi memerintahkan untuk menempatkan,” imbuh.Menurut Adian, kata ‘menitip’ dan ‘memerintahkan’ adalah dua hal yang sangat berbeda. Kata ‘menitip’ menempatkan Presiden sebagai pemohon dan Erick Thohir sebagai penentu.“Melalui pernyataannya itu Erick Thohir menempatkan dirinya seolah berada di atas presiden atau dengan kata lain Presiden lah yang menjadi pembantu dan Erick yang menjadi Presiden,” ucap Adian.“Sekali lagi saya tidak mengerti kenapa ucapan yang memutarbalik posisi menteri dan presiden itu bisa diucapkan,” tambah Adian.Penulis: ***Editor: Vicky FadilFoto: Aprillio Akbar