tuan Langsung Tunai yang merupakan program bantuan pemerintah dengan pemberian uang tunai atau beragam bantuan lainnya, baik bersyarat (conditional cash transfer) maupun tak bersyarat (unconditional cash transfer) untuk masyarakat miskin.Adapun negara yang pertama kali memprakarsai BLT adalah negara Brasil pada tahun 1990-an dengan nama Bolsa Escola dan berganti nama menjadi Bolsa Familia yang diprakarsai oleh Presiden ke-35 Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva. Setelahnya, BLT diadopsi negara lainnya dan jumlah pemberikan BLT disesuaikan dengan kebijakan pemerintah masing-masing.Baca Juga: Apa Itu Neobank?Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang menyelenggarakan BLT. Adapun mekanisme di Indonesia berupa pemberian kompensasi uang tunai, pangan, jaminan kesehatan, dan pendidikan dengan target pada tiga tingkatan: hampir miskin, miskin, sangat miskin.BLT di Indonesia pertama kali dilaksanakan pada tahun 2005 berlanjut pada tahun 2009 dan di 2013 berganti nama menjadi Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Program BLT saat itu diselenggarakan sebagai respon kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) dunia.Selain itu, tujuan utama dari program ini adalah membantu masyarakat miskin untuk tetap memenuhi kebutuhan hariannya. Dalam pelaksanaan BLT ini, banyak yang menganggap sukses oleh beberapa kalangan, meski demikian kontroversi dan kritik masih berdatangan.Pada penyelanggaraan BLT di Indonesia, banyak kontroversi yang timbul. Ada yang menyebut BLT seperti alat pendongkrak popularitas jelang pemilu, pembodohan bangsa, dan penambah beban dengan hutang. Konflik yang ada pun terus berkembang hingga pernah terjadi demo dan menjadi perdebatan politikus hingga sekarang.Di tengah pandemi corona yang menyebabkan perekonomian porak poranda, BLT ditujkan untuk warga miskin yang kehilangan pekerjaan. Terlebih, pemerintah juga akan memberikan BLT kepada masyarakat yang keluarganya ada yang sakit kronis.Hingga 8 Mei 2020 lalu, sudah ada 27.062 desa yang mulai melakukan pendataan pihak mana saja yang akan mendapatkan BLT desa. Kemudian, ada 24.309 desa yang melakukan alokasi anggaran BLT desa, dan 10 ribu desa di antaranya sudah mencairkan dana desa untuk BLT. Adapun jenis pemberian BLT ini adalah uang tunai sebesar Rp600 ribu per bulan untuk setiap keluarga.Selain itu, Presiden Joko Widodo mengungkap bahwa program-program bantuan sosial lainnya tetap akan berlangsung hingga tahun 2021 dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 419,31 triliun di dalam RAPBN 2021. Berikut program BLT yang berlanjut hingga tahun depan:1. Subsidi Gaji Rp600 ribuBantuan dari pemerintah terhadap subsidi gaji Rp600 ribu dilakukan melalui BPJS Ketenagakerjaan bagi masyarakat pekerja dengan gaji di bawah Rp5 juta. Pencairan BLT ini dimulai sejak 27 Agustus lalu dan dilakukan bertahap hingga akhir September 2020.Penerima subsidi gaji karyawan ini akan menerima bantuan Rp600.000 per bulan selama 4 bulan. Pembayarannya dilakukan sebanyak 2 tahap atau Rp1,2 juta setiap penyaluran.2. Kartu PrakerjaProgram Kartu Prakerja dibuat oleh pemerintah untuk membantu para pengangguran di Indonesia, beserta karyawan yang terkena PHK. Peserta dari program ini akan mendapatkan bantuan insentif untuk pelatihan kerja sebesar Rp1 juta per bulannya untuk membayar pelatihan online Kartu Prakerja.3. BLT UMKMBantuan pemerintah melalui BLT UMKM ditujukan bagi para pelaku usaha UMKM untuk terus melajutkan usahanya. Skemanya adalah kucuran bantuan UMKM sebesar Rp2,4 juta yang ditransfer lewat rekening.4. Bansos TunaiTerakhir, ada bansos tunai yang akan terus berjalan hingga tahun depan. Pemerintah melalui Kementerian Sosial menyalurkan bantuan sosial yakni bantuan sosial tunai (BST) senilai Rp500.000 atau bansos Rp500.000 untuk masyarakat yang bukan penerima Program Keluarga Harapan (PKH).Setiap sebuah kebijakan, pastinya ada kelebihan dan kekurangan hingga menimbulkan pro dan kontra. Namun, apa saja kelebihan dan kekurangan BLT ini? Berikut ulasannya!KelebihanMeski program BLT di Indonesia sering dianggap banyak kekurangan, tetapi faktanya dari Bank Dunia, Indonesia termasuk Negara yang paling sukses menyelenggarakan bantuan berjenis langsung tunai kepada masyarakat miskin dibandingkan Negara lain. Hal ini dibuktikan melalui laporan triwulanan ketiga pada tahun 2010. Dalam laporan itu, pemerintah Indonesia berhasil menyalurkan kepada sepertiga rumah tangga di Indonesia hanya dalam waktu kurang dari 5 bulan. Penyaluran ini juga dinilai tepat waktu oleh Bank Dunia, sehingga berdampak positif pada pembangunan masyarakat dan menjadi insentif bagi yang tidak produktif.KekuranganBeberapa tokoh di Tanah Air menganggap BLT di Indonesia sudah unggul dan memuaskan. Namun, nyatanya masih banyak kritik terkait teknis pelaksanaan BLT ini, yaitu pembagian tak merasa karena menggunakan data lama. Lalu, kerap menjadi peluang korupsi, kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat dengan para pengurus tingkat daerah. Selain itu, jumlah nominal insentif BLT sama sekali tidak memiliki pengaruh signifikan bagi kesulitan yang dihadapi warga miskin. Dan yang terakhir, program BLT disinyalir memicu konflik sosial di tengah masyarakat.Terlepas dari segala pro dan kontra, harapan rakyat Indonesia tentunya hanya ingin BLT bisa lebih baik lagi. Bagaimana menurutmu?Penulis/Editor: Fajria Anindya UtamiFoto: Sufri Yuliardi